Blunder Simpatisan Instan

photo2

Situasi politik Indonesia saat ini benar-benar sedang hiruk. Saya masih ingat ketika saya kecil waktu melihat iring-iringan kampanye simpatisan parpol yang melintas di jalan raya. Saya juga masih ingat waktu kami terjebak kemacetan di tengah kerumunan massa parpol yang datang secara mendadak dan merasa khawatir mobil Ayah saya dirusak. Situasi yang terjadi hampir 20 tahun lalu itu memberi gambaran kepada saya bagaimana wujud fanatisme seseorang terhadap satu paham politik atau tokoh politik.

Kini, situasi politik di era digital rupanya jelas terlihat berbeda. Pengultusan tokoh politik pun sudah ber-transformasi bentuknya. Saya sudah tidak lagi terjebak di tengah-tengah pawai parpol, tapi justru terjebak kampanye sepanjang hari meski sudah berada di dalam kamar sendiri. Invasi kampanye ke dalam social media menjadi jalan keluar bagi simpatisan yang dibatasi oleh jadwal resmi KPU. Jadi, tidak penting lagi jadwal kampanye dan tidak penting lagi periode minggu tenang. Setiap saat para simpatisan bisa berkampanye.

Jika dulu saya melihat dia yang tidak peduli dengan bangsa dan nasionalisme, kini saya melihat dia melakukan orasi sepanjang hari di social media. Mendadak semua orang menjadi simpatisan dan bebas berkomentar tidak pantas di social media.

Invasi ini membuahkan hasil bagi pelaku politik, beberapa partai berhasil menambah jumlah massa yang menjadi simpatisan. Terlebih lagi saat Pemilihan Presiden, penambahan jumlah simpatisan melonjak tajam tanpa bisa dikontrol lagi. KPU pun tidak bisa berbuat apa-apa karena peraturan yang ada tidak bisa mengimbangi perkembangan politik yang ada.

Saya kutip dari VivaNews (1/7):

Komisi Pemilihan Umum menyatakan tidak bisa mengatur kampanye di media sosial, sebab wilayah tersebut ranah Kepolisian dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. “Kampanye di media sosial nggak ada batasannya karena media sosial bukan bagian yang bisa kami atur,” kata anggota KPU Arief Budiman di kantornya, Jakarta, Kamis 5 Juni 2014.

Kampanye yang bisa diatur KPU adalah melalui media elektronik. Sudah ditentukan bahwa media televisi mendapat porsi iklan kampanye maksimal 10 spot dalam satu hari, dengan tiap spot berdurasi 30 detik. Sementara radio mendapat porsi iklan kampanye 10 spot dengan setiap spot berdurasi 60 detik.

Longgarnya peraturan di ranah ini, membuat saya seakan dihantui kampanye yang tidak berujung. Mendadak semua orang jadi pengamat politik yang dibayar untuk menilai politisi. Jika dulu saya hanya melihat simpatisan berkeliaran di acara-acara partai, kini mungkin hanya berjarak satu meter dengan saya. Mereka semua mendadak menjadi simpatisan. Lebih parah lagi tanpa proses audisi seperti Indonesian Idol. Tidak ada Mas Dhani, tidak ada Mbak Anggun. Mereka semua simpatisan instan.

Kalau boleh beropini, saya yang sebelumnya sangat antusias untuk memilih satu tokoh dalam pilpres kali ini justru mundur teratur karena blunder para simpatisan instan. Mereka yang mengatakan dirinya relawan seakan rela melakukan apa saja demi menggaet massa baru. Menghardik, sumpah serapah, menyebar fitnah, membesar-besarkan kelemahan, dan mendoktrin dilakukan para relawan ini, terutama di social media. Lihat saja respon dari surat terbuka Tasniem Fauzia di Facebook yang diserang komentar-komentar pahit dan keras dari simpatisan instan pendukung salah satu capres. Mereka sungguh lupa arti demokrasi dan kesederhanaan yang sudah diagungkan.

Secara pribadi, saya tidak memiliki sentimen negatif pada kedua calon Presiden yang ada. Karena sebelum ini semua mereka berdua bergandengan tangan. Sebelum ini semua, mereka sepaham dan setujuan. Sebelum ini semua, mereka tim yang kompak.

Justru yang membuat saya meragu dan berpikir ulang adalah ulah dari para simpatisan instan. Mereka yang setiap hari rela memberikan komentar pedas di setiap status lawan, mereka yang niat setiap hari posting berita negatif di twitter, mereka yang tidak bosan upload foto sindiran di path, mereka yang dibiarkan melanggar arti demokrasi, mereka yang dibiarkan melanggar kesederhanaan.

Jika semula social media dianggap sebagai medium yang tepat untuk menyentuh kaum golput. Dan apa yang terjadi saat ini adalah strategi politik yang mereka lakukan. Maka itu adalah sebuah blunder.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s